Perkembangan Islam dan Demokrasi di Indonesia

August 12, 2007 at 7:02 am (Tulisane Masramadhan) (, , )

Islam merupakan agama yang akan membawa para pemeluknya pada kedamaian hidup , ketentraman hati, serta keseimbangan jiwa. Islam adalah rentang jalan kebenaran dan kebaikan yang berujung pada kebahagiaan abadi. Hanya dengan ajaran-ajaran islam, seseorang dapat meniti jalan yang lurus di bawah cahaya bimbingan, keberkahan serta keridhaan tuhan.

Selain itu, ia juga akan terhindar dari jalan hidup yang menyesatkan hati dan jiwanya. Islam merupakan satu-satunya agama yang memposisikan diri kita layak dimuka bumi. Ringkasnya, Islam merupakan jalan menuju kesempuranaan dan keberuntungan hidup dunia dan akhirat.

INDONESIA DAN ISLAM

Bangsa Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu – Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India , China dan wilayah Timur Tengah .

Dua kerajaan besar pada zaman ini adalah Sriwijaya dan Majapahit . Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14 , kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra . Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670 . Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu . Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur , Majapahit . Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364 , Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana .

Masuknya Islam pada sekitar abad ke-12 secara perlahan-lahan menandai akhir dari era ini. Dan Melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia bukanlah urusan mudah. Tak banyak jejak yang bisa dilacak. Ada beberapa pertanyaan awal yang bisa diajukan untuk menelusuri kedatangan Islam di Indonesia. Beberapa pertanyaan itu adalah, darimana Islam datang? Siapa yang membawanya dan kapan kedatangannya? .

Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh
sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India . Tempat-tempat seperti Gujarat , Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.

Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India .

Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck Hurgronje yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya.

Teori kedua, adalah Teori Persia . Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia . Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran . Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya. Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.

Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.

Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-o-rang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin.

Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan. Biasanya, para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh, termasuk Indonesia . Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia
dengan intensitas yang cukup padat. Ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16.

Hal ini juga bisa dilacak dari catatan para peziarah Budha Cina yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 untuk pergi ke India . Bahkan pada era yang lebih belakangan, pengembara Arab yang masyhur, Ibnu Bathutah mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah
Nusantara. Tapi sayangnya, tak dijelaskan dalam catatan Ibnu Bathutah
daerah-daerah mana saja yang pernah ia kunjungi.

Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.

Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.

Sebuah literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib al Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil tersebut.

“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya
merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,” demikian antara lain bunyi surat Raja Sriwijaya Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada tahun 100 hijriah atau 718 masehi.

Tak dapat diketahui apakah selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara Sriwijaya Dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Indonesia. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.

Pada awal abad ke-12, Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan. Kemunduran Sriwijaya ini pula yang berpengaruh pada perkembangan Islam di Nusantara. Kemerosotan ekonomi ini pula yang membuat
Sriwijaya menaikkan upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. dan hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam. Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau
menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.

Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau
Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy dalam makalahnya pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh yang digelar pada tahun 1978. Menurut Ali Hasjmy, kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak.

Masih banyak perdebatan memang, tentang hal ini. Tapi apapun, pada periode inilah Islam telah memegang peranan yang signifikan dalam sebuah kekuasaan. Pada periode ini pula hubungan antara Aceh dan kilafah Islam di Arab kian erat. Selain pada pedagang, sebetulnya Islam juga didakwahkan oleh para ulama yang memang berniat datang dan mengajarkan ajaran tauhid. Tidak saja para ulama dan pedagang yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam dan datang langsung ke sumbernya, di Makkah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh, terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke-16. Bahkan pada tahun 974 hijriah atau 1566 masehi dilaporkan, ada lima kapal dari Kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar
pelabuhan Jeddah.

Ukhuwah yang erat antara Aceh dan kekhalifahan Islam itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Makkah. Puncak hubungan baik antara Aceh dan pemerintahan Islam terjadi pada masa Khalifah Utsmaniyah. Tidak saja dalam hubungan dagang dan keagamaan, tapi juga hubungan politik dan militer telah dibangun pada masa ini. Hubungan ini pula yang membuat angkatan perang Utsmani membantu mengusir Portugis dari pantai Pasai yang dikuasai sejak tahun 1521. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya Portugis juga sempat digemparkan dengan kabar pemerintahan Utsmani yang akan mengirim angkatan perangnya untuk membebaskan Kerajaan Islam Malaka dari cengkeraman penjajah. Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari perairan yang akan dilalui Muslim Aceh yang hendak menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam
meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu. Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah.

Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon . Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.

Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.

Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.

Giri berkembang dan menjadi pusat keagamaan di wilayah Jawa Timur. Bahkan, Buya Hamka menyebutkan, saking besarnya pengaruh kekuatan agama yang dihasilkan Giri, Majapahit yang kala itu menguasai Jawa tak punya kuasa untuk menghapus kekuatan Giri. Dalam perjalanannya, setelah melemahnya Majapahit, berdirilah Kerajaan Demak. Lalu bersambung dengan Pajang, kemudian jatuh ke Mataram.

Meski kerajaan dan kekuatan baru Islam tumbuh, Giri tetap memainkan peranannya tersendiri. Sampai ketika Mataram dianggap sudah tak lagi menjalankan ajaran-ajaran Islam pada pemerintahan Sultan Agung, Giri pun mengambil sikap dan keputusan. Giri mendukung kekuatan Bupati Surabaya untuk melakukan pemberontakan pada Mataram.

Meski akhirnya kekuatan Islam melemah saat kedatangan dan mengguritanya kekuasaan penjajah Belanda, kerajaan dan tokoh-tokoh Islam tanah Jawa memberikan sumbangsih yang besar pada perjuangan. Ajaran Islam yang salah satunya mengupas makna dan semangat jihad telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan Indonesia melawan penjajah. Tak hanya di Jawa dan Sumatera, tapi di seluruh wilayah Nusantara.

Islam Dan Politik Demokrasi

Menurut teori politik modern, yang disebut dengan pemerintahan demokratis adalah pemerintahan yang “mengatasnamakan, dari, oleh dan untuk rakyat “. Yang dimaksdu dengan rakyat adalah mayoritas warga negara. Dalam sebuah pemungutan suara dalam menentukan sesuatu keputusan yang berkenaan dengan kehidupan bermasyarakat, keputusan tersebut harus memperoleh suara lebih dengan lima puluh satu persen akan keluar sebagai pemenang lantaran disebut suara mayoritas.

Dengan begitu, suatu pemerintahan yang demokratis merupakan pemerintahan yang menyuarakan kepentingan mayoritas masyarakat. Kehendak rakyat dijadikan patokan bagi berlangsunganya suatu pemerintahan yang demokratis. Biarpun kehendak rakyat banyak (mayoritas) amat beragam, baik dari segi bentik maupun wataknya, namun dasarnya, seluruh kehendak tersebut bersifat keduiawian semata.

Henry ford dalam bukunya , The Mother Of Democracy , mengklaim bahwa Inggris Raya merupakan pelopor demokrasi, mengatakan ;” Kita harus Ingat pemogokan massal dan demonstrasi besar-besaran di Inggris pada tahun 1926, yang melumpuhkan semua jalur kehidupan sehari-hari maupun ketertiban dan keamanannya .

Nikita Khruschev pernah melontarkan sebuah pernyataan dalam Declared in the 22 nd Supreme Soviet Congress bahwa ; “kultus individu pada joseph stalin telah memporak-porandakan seluruh bangunan sistem kepemimpinan, pemerintahan, perekonomian juga industri Uni Soviet . Tambahan pula, sistem Kultus Individu hanya akan menggelembungkan jumlah manusia hipokrit, munafik, penjilat, mata-mata rahasia, disInformasi dan semangat saling bunuh antar sesama.

Hasil dari sebuah sistem politik adalah sebuah aturan atau perundang-undangan yang berlaku dalam suatu sistem masyarakat. J.J Rousseu dalam bukunya Social Contract 1) memberikan sebuah penegasan : “Mustahil bagi umat manusia umtuk meciptakan tatanan kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara, tanpa dibarengi asumsi mengenai adanya sesuatu zat yang mutlak yang maha sempurna, yang harus kita jadikan panutan bersama”.

Ringkasnya, Rousseau beranggapan semua arah , jalur serta tatanan kehidupan manusia hanya mungkin diterapkan secara efektif dan langsung apabila terlebh dahulu dpancangkan keyakinan bahwa tuhan itu ada. Dan tujuan hidup manusia hanyalah bagaimana berupaya untuk terus mendekatkan diri kepadanya.

Dalam komentarnya mengenai hukum islam, seorang jaksa agung amerika serikat mengatakan; “Hukum Islam memang sempurna, karena semuanya berbasis pada kehendak tuhan yang diwahyukan kepada Rasulnya yang bernama muhammad. Dalam kitab tersebut, semua manusia diharuskan bersatu dalam suatu tatanan masyarakat yang tidak membeda-bedakan ideologi, ras, suku dan bangsa warna kulit serta asal-usul.

Leo Tolstoy, salah satu pemikir besar yang pernah hidup di dunia, meyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah memikirkan (kepentingan) dirinya sendiri serta tidak pernah menyatakan dirinya memiliki Privelese(hak-hak Istimewa) serta kebebasan yang melebihi kebebasab individu lainnya. Siapa yang paling bertakwa kepada tuhan, dialah yang paling agung dimata-Nya. Sungguh, segenap hukum dan ajaran yang termaktub dalam kitab suci umat muhammad tersebut dapat menjadi pegangan serta pedoman utama bagi umat manusia yang hidup di permukaan bumi.

Sebuah Kenyataan

Kita tentu Prihatin jika menyaksikan kenyataan di seluruh negara dimana mayoritas penduduknya adalah beragama islam. Hampir seluruh masyarakat Islam dewasa ini silau dengan kemajuan teknologi. Kenyataan tersebut mencerminkan bahwa rata-rata muslim telah memandang dan menghargai kemajuan teknologi berdasarkan pola pikir barat yang non-Islam. Akibatnya, tidak sedikit orang islam yang secara membabi buta meniru segenap cara dan gaya hidup orang barat modern. Karenanya tidaklah mengherankan apabila sekarang banyak orang muslim tidak lagi mempraktikan keislamannya.

Kebudayaan barat yang berkembang secara pesat dan mengagumkan setelah revolusi Industri. Sejak itu orang berlomba-lomba dalam melakukan penelitian di segala bidang. Namun sangat disayangkan, pada saat yang bersamaan, terjadi pula dekadensi moral dan spiritual. Umat manusia kian terjerumus ke dalam lembah kehidupan yang suram dan kelam. Meledaknya kebudayaan industrial ermasuk di Indonesia, mengakibatkan banyak orang menjadi begitu bernafsu mengejar berbagai fasilitas dan kenikmatan duniawi. Sehingga mengabaikan prinsip-prinsip religi dan kejiwaanya. Berbagai kejadian tragis dan memilukan yang berlangsung secara serentak tersebut terus menyengit dan menelan banyak korban jiwa.

Bangsa Indonesia yang adalah bangsa sedang berkembang dan berusaha mengejar ketertinggalannya pun tidak luput dari hal diatas, krisis multidimensi yang melanda bangsa Indoensia menunjukan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan bangsa Indonesia . Begitu banyak orang maupun kelompok islam yang berada di puncak pimpinan bangsa ini tidak juga mampu mengentaskan bangsa ini dari krisis yang berkepanjangan. Satu hal yang menjadi suatu pertanyaan apakah mereka dan bangsa sudah meninggalkan keislamannya sehingga berbagai masalah terutama kemunduran sebuah moralitas terus terjadi dan berkembang secara pesat ?.

Sejarah telah mencatat bahwa peranan kelompok islam dalam proses tumbuh berkembangnya bangsa Indonesia sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga kini tidak dapat dipungkiri, namun sayangnya yang terjadi adalah benturan destruktif antar kelompok Islam lebih sering terjadi dari pada usaha sinergi bersama dalam membangun bangsa, terutama dalam bidang kekuasaan politik.

Semangat religiusitas umat islam khususnya di Indonesia saat ini sedang mengalami masa pasang. Sebagai indikatornya kita dapat melihat dari berbagai simbol-simbol keagamaan yang mengecambah di berbagai sektor kehidupan ; partai pilitik yang berlabel islam, ekonomi yang konon berbasis syariah, life style, dan dinamika kajian-kajian islam seperti JIL, JIMM, kelompok-kelompok Pecinta Ahlul Bait, dan lain sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri pula munculnya semangat seketerian yang mengklaim dirinya paling benar serta berbagai kelompok yang bersifat dogmatis dan eksklusif.

Agama adalah merupakan fitrah manusia dalam pengertian –seperti yang diungkapkan oleh muradho muthahari – sebagai sebuah entitas yang ada selama manusia ada dan dimiliki oleh seluruh manusia tanpa ada proses usaha atau pembelajaran . Secara umum agama bertanggung jawab terhadap aktualisasi tiga ranah potensi manusia. Pertama , ranah kognitif (intelektual, aql), kedua , ranah afektif (moral, ahlak), dan ketiga , ranah psikomotorik (fiqh dalam pengertian luas :ibadah, muamalah dan sebagainya). Dan ketika dalam menengembangkan modus beragama, dimana hanya salah satu dari 3 ranah manusia di atas maka manusia akan cenderung pada ekstrimisme. Modus beragama yang hanya mengedepankan rasionalisne saja akan terjerumus pada jurang spekulasi, debat wacana dan hampa dati tindakan sosial praksis dan miskin pengalaman batin spiritual. Begitu juga modus beragama yang berorientasi pada aspek psikomotorik akan terjebak dalam pengalaman eksoteris (wujud luar) agama, formalistik, doktriner dan fanatis.

Bagaimanakah Pengaruh “Islam” di Indonesia ?

Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Freedom Institute (FI), dan Jaringan Islam Liberal (JIL) tentang orientasi politik Islam di Indonesia pada awal bulan November 2004 cukup mencengangkan. Betapapun pemilu 2004 berjalan sukses dan menjadi sebuah alasan kuat untuk mengatakan bahwa Indonesia benar-benar layak menyandang gelar sebagai negara paling demokratis di antara negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, temuan penelitian ini menunjukkan landasan yang sangat rapuh bagi proses demokratisasi di Indonesia, yang boleh jadi merupakan representasi dunia muslim pada umumnya. Angka dukungan terhadap agenda-agenda Islamis cukup membuat gentar: 41,1 % yang mendukung perempuan tidak boleh jadi presiden; 55 % setuju hukum rajam bagi penzina; 58 % mendukung pembagian waris dua banding satu antara laki-laki dan perempuan; 41 % menyatakan dukungan terhadap pelarangan bunga bank; pendukung poligami sebanyak 39 %; dan sebanyak 40 % setuju hukum potong tangan diterapkan di Indonesia. Dan yang lebih merisaukan bagi kelanjutan demokrasi dan kebebasan sipil ( civil liberties ) adalah tingginya sikap intoleran kaum muslim terhadap ummat Nasrani: 24,8 % keberatan kalau orang Kristen mengajar di sekolah negeri, apalagi di sekolah agama (madrasah, pesantren, IAIN, dan seterusnya); 40,8 % umat Islam Indonesia keberatan jika orang Kristen mengadakan kebaktian di sekitar wilayah tempat tinggalnya; dan 49,9 % umat Islam Indonesia keberatan jika orang Kristen membangun gereja di sekitar tempat tinggal mereka.

Fenomena di atas mungkin masih bisa ditanggulangi dengan mengatakan bahwa itu baru pada tataran sikap, sehingga sangat mungkin berbeda pada tataran praksis. Menurut penelitian ini, sekitar 2–3 % umat Islam Indonesia pernah melakukan aksi pemboikotan terhadap barang atau jasa yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, melakukan razia tempat-tempat hiburan, atau demonstrasi sebagai dukungan terhadap penderitaan umat Islam di manapun berada. Sementara itu, ada sekitar 15,9 % kaum muslim Indonesia mendukung apa yang telah dilakukan Amrozi, Imam Samudra, dan kawan-kawan. Mengerikan. Katakanlah kita percaya pada hasil survei ini. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menjelaskan proses pemilu yang sedemikian demokratis? Lalu kekalahan partai-partai Islam yang sangat telak dari partai-partai nasionalis (sebut saja partai-partai sekuler)? Banyak jawaban yang bisa muncul, misalnya bahwa demokrasi hanya menjadi instrumen legitimasi bagi kekuatan non-demokratis Islam untuk merebut kekuasaan. Adapun umat Islam yang beralih memilih partai-partai sekuler, karena partai-partai Islam demikian terfragmentasi. Andai hanya ada satu pilihan partai Islam (dengan agenda-agenda Islamis), sangat mungkin umat Islam menyatukan suara. Lalu, kenapa kekuatan politik dengan agenda Islamis itu tidak menyatukan diri? Pertanyaan inilah yang bisa dijadikan pijakan awal bagi sebuah optimisme demokrasi di dunia Islam, bahwa di mana-mana, tak terkecuali di dunia Islam, selalu ada hasrat kepentingan bagi perebutan kekuasaan. Dan itulah fondasi paling fundamental bagi demokrasi.

Sejak awal, setumpuk keraguan terhadap perkembangan demokrasi di dunia muslim memang mewarnai berbagai perdebatan. Berbagai prasyarat, seperti historis, geografis, ekonomi, kultur, basis sosial, agama, dan seterusnya yang dipenuhi oleh masyarakat demokratis Barat tidak tercipta di banyak belahan dunia muslim. Salah satu prasyarat tersebut adalah tradisi kapitalisme yang tidak tumbuh dengan baik di dunia muslim. Kapitalisme menjadi sarana tumbuhnya iklim demokrasi karena mengandaikan kehidupan persaingan bebas, yang pada akhirnya akan melahirkan para borjuis, para borjuis inilah yang menjadi pilar demokrasi seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Barrington Moore menjelaskan hal ini dalam sebuah ungkapan singkat: “ No bourgeois, no democracy .”

Faktor lain, misalnya, dunia Islam tidak mengalami sejarah pertentangan panjang seperti yang dialami oleh Barat. Sejarah Barat dipenuhi oleh berbagai pertentangan: antara gereja dan negara, antara raja dan bangsawan, antara Katolik dan Protestan, sampai kemudian muncul revolusi industri yang menandai ketegangan antara para bangsawan dan borjuis, pertentangan antara borjuis sendiri, belum lagi peperangan kekuasaan antar bangsa, dan sebagainya. Semua itu menumbuhkan sikap pengakuan terhadap kepemilikan dan hak-hak pribadi antar sesama manusia. Pembagian kekuasaan dan mekanisme perebutan kekuasaan yang melibatkan sebanyak mungkin orang juga kemudian disadari karena proses panjang perebutan berbagai kepentingan tersebut di atas. Satu hal yang tidak boleh luput dari ingatan adalah bahwa demokrasi selalu unik pada setiap negara, bahkan kerapkali demokrasi sangat sulit didefinisikan. Pengambilan kebijakan publik melalui keterlibatan segelintir anggota masyarakat laki-laki kelas atas secara langsung di Yunani 2500 tahun lalu disebut sebagai demokrasi. Pemberian hak suara kepada masyarakat umum di Jerman pada tahun-tahun 1930-an awal yang melahirkan pemimpin ultra diktator, Hittler, juga adalah proses demokrasi. Dua negara paling demokratis, AS dan UK , menggunakan sistem yang sama sekali berbeda, AS menggunakan sistem presidensil dan UK menggunakan sistem parlementer, tapi keduanya tetap demokratis. Orang Yunani tentu tidak membayangkan bahwa sistem perwakilan dan keterlibatan berbagai kalangan masyarakat “awam” dalam proses pengambilan keputusan publik akan disebut demokratis di zaman sekarang.

Kesulitan mendefinisikan demokrasi ini membuat Fareed Zakaria hanya mengartikannya sebagai a good government . Sebab sangat tidak memadai apabila demokrasi hanya dimaknai prosedural (pemilihan umum). Karena, demokrasi seperti itu tak jarang hanya melahirkan pemimpin teroris, rasis, fasis, ataupun mereka yang memiliki proyek untuk mengabaikan konstitusi dan mencabut hak-hak individu. Demokrasi juga tidak cukup dimaknai sebagai demokrasi liberal, di mana telah tercipta pemilihan umum dan juga terdapat rule of law, a separation of power, dan the protection of basic liberties of speech, assembly, religion, and property . Kenyataannya, demokrasi dan liberalisme kerapkali berpisah jauh. Maka menjadi relevan apabila demokrasi hanya memiliki makna sebagai pemerintahan yang baik: di mana ada pemerintahan yang baik, di situlah demokrasi berada. Dengan demikian, demokrasi menjadi sebuah konsep yang tidak kaku. Islam memiliki konsep demokrasinya sendiri, yang mungkin berbeda dengan konsep demokrasi di dunia lain, termasuk dengan dunia Barat.

Otokrat liberal adalah istilah yang terlalu pesimis bagi dunia Islam, khususnya Indonesia , untuk merebut posisi dalam arus gelombang demokratisasi dunia. Soeharto telah tumbang, dan tidak ada alasan untuk kembali ke era kekuasaan Soeharto hanya untuk mematangkan diri menuju sistem demokrasi yang sesungguhnya. Istilah “demokrat Islamis,” yang dimunculkan oleh Saiful Mujani, sangat mewakili konsep demokrasi ala Islam, sejauh istilah itu bukan untuk menyatakan pesimisme demokrasi di dunia Islam. Inilah demokrasi ala Islam, lebih khusus Indonesia , di mana pemilu berjalan damai di tengah sikap intoleran umat Islam itu sendiri. Umat Islam tentu tidak bisa melepaskan fanatisme keagamaannya. Tapi itu bukan masalah ketika kehidupan praksis demokratis berjalan dengan baik.

Daftar Bacaan

• Budaya Yang Terkoyak (terjemahan dari Western Civilization Through Moslem Eyes) , karya Prof Mojtaba Lari, Al-Huda, November 2001.

• Aqidah Alternatif (terjemahan dari Dirasat Fi Ushulil Islam), karya Prof Mojtaba Lari, Al-Huda, Mei 2005.

• Optimisme Demokrasi Ala Islam Indonesia , oleh Saidiman, http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=781 , 23 Mei 2005.

• Rekonstruksi Sejarah Masuknya Islam Ke Jawa, Oleh Muhammad Husnil , http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=781 , 26 Mei 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: